Mengenang 15 Tahun Kepergian Munir Yang Dibunuh Bangsanya Sendiri
Mengenang 15 Tahun Kepergian Munir Yang Dibunuh Bangsanya Sendiri

From Mikael via Ensiklopedia Bebas Group

munir, 15 tahun munir, kronologi munir,

Tepat pada hari ini Sabtu 7 September 2019. 

Mungkin, bagi segelintir orang, hari ini adalah hari-hari seperti biasanya beraktivitas, kerja, sekolah, bercinta, dll. Namun, bagi saya hari ini adalah hari yang patut kita kenang, mengenai seseorang yang di mana beliau adalah seorang pejuang, seorang pahlawan, seorang penegak keadilan yang dibunuh secara mengenaskan dan yang lebih ironisnya lagi, yaitu di bunuh oleh saudara sebangsa dan setanah air sendiri.

Beliau adalah Munir Said Thalib. Lahir di kota Malang, Kab. Jawa Timur, 8 Desember 1965. Nama ini selalu terngiang-ngiang dikepala kita dan selalu identik dengan keadilan yang beliau suarakan secara eksplisit di ranah publik.

Beliau juga adalah seorang aktivis HAM dan Munir juga telah menangani banyak kasus, terutama mengenai kasus pelanggaran HAM dan kemanusiaan. Salah satu kronologi kasus besar yang beliau pernah tangani adalah pembunuhan aktivis buruh Marsinah yang di duga tewas di tangan aparat negara sendiri pada tahun 1993, yang sampai sekarang belum di usut tuntas nasib kedepan kasusnya seperti apa. Siapa dalang dari semua kekejian ini? Siapa pelaku spesifiknya? Tidak ada yang tahu.

Ada beberapa upaya yang di lakukan oleh pihak berwenang mengenai kronologi kasus ini. Misalnya, pada saat pemerintahan presiden ke-6. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menginstruksikan pembentukan tim pencari fakta (TPF) dengan mengeluarkan keputusan presiden berdasarkan Nomor 111 Tahun 2004 untuk menuntaskan kasus kematian Munir.

Selanjutnya, pada tanggal 24 Juni 2005, tim pencari fakta menyerahkan 2 dokumen yang terdiri dari dokumen lengkap dan dokumen eksekutif. Dokumen tersebut di salin menjadi 7 bagian untuk di serahkan kepada 7 lembaga negara yang seharusnya menjaga dan bertanggung jawab penuh atas dokumen yang di percayakan kepadanya.

Ironisnya, dalam jangka waktu yang berjenjang dari pemerintahan SBY sampai Jokowi, pemerintah tidak pernah mengungkapkan hasil laporan tersebut kepada publik yang sejatinya menyimpan harapan kepada mereka. Bahkan, dinyatakan hilang.

Yang menjadi tanda tanya besar bagi kita dan teman-teman seperjuangan adalah apakah hilang beneran atau sengaja di hilangkan? Masa dalam waktu yang berdekatan dengan kepemerintahan yang terus berganti-ganti tidak bisa mengusut tuntas dan tidak sesuai dengan janji-janji yang kalian paparkan kepada kami!

Hanya bualan belaka yang bisa di janjikan oleh mereka terkait kasus pelanggaran HAM yang rata-rata tidak pernah di lacak sampai ke bibit-bibitnya. Hanya janji palsu yang di kemukakan. Hanya secuil kontribusi yang kalian publikasikan tetapi secara keseluruhan NOL BESAR!

Status bebas murni terhadap Pollycarpus yang di duga bertanggung jawab atas kematian Munir ternyata mengejutkan publik pada Agustus 2018 lalu. Sebelumnya, mantan pilot garuda ini di dakwa turut serta melakukan pembunuhan berencana dan pemalsuan dokumen dengan vonis hukuman 14 Tahun penjara.

Namun, aneh sekaligus konyolnya, Pollycarpus resmi menghirup udara bebas setelah menjalani 8 Tahun dari 14 Tahun penjara atas remisi dan status bebas bersyarat yang telah ia terima sejak Tahun 2014.

Apakah semudah itu mendapatkan remisi?
Apakah sesuai dengan perbuatan yang telah ia lakukan dengan menghilangkan nyawa seseorang? Apakah tidak ada intervensi dari pihak-pihak tertentu?

Siapa yang bisa memastikan bahwa orang ini berhak mendapatkan remisi tersebut?
Apakah dengan dalih penyesalan dan berkelakuan baik lalu dia di berikan remisi?
Apakah dia menyebutkan siapa dalang dari skenario pembunuhan tersebut? Tidak ada sama sekali. Pertanyaan-pertanyaan di atas seperti terus memutari kepalaku saat ini.

Selanjutnya, saya akan mendeskripsikan kronologi kasus Munir yang tragis secara singkat, padat dan jelas. Pada tanggal 6 September 2004, di atas langit Rumania. Munir Said Thalib menghembuskan nafas terakhirnya di dalam pesawat Garuda GA-974 saat akan melanjutkan pendidikan S2 di Belanda.

Berdasarkan hasil otopsi dari pemerintah Belanda, mereka menyatakan bahwa terdapat kandungan Arsenik mematikan di dalam tubuh pria berumur 38 Tahun tersebut. Tidak perlu saya sebutkan pelakunya, karena saya yakin kalian pasti sudah mengetahuinya. Rasanya mulut ini terbungkam jika ingin mengungkapkan kebenaran.

Mungkin hanya itu saja yang bisa saya sampaikan kepada kalian dan semoga bisa menginspirasi kalian untuk tidak takut menyuarakan kebenaran dan keadilan di negeri ini. Ingat, kita semua dalam pelukan demokrasi. Siapa saja boleh menyerukan hal yang seharusnya kita serukan secara real.

Terlepas dari itu semua, saya menjadi teringat saat beliau berorasi dan membangkitkan semangat reformasi pada detik-detik kehancuran Orba.

"Mereka berebut kuasa, Mereka menenteng senjata, Mereka menembak rakyat tapi kemudian bersembunyi di balik ketek kekuasaan".
- Munir Said Thalib

Sedikit pesan yang ingin saya wakili sekaligus saya sampaikan daripada teman-teman seperjuangan yang berada di sini sebelum mengakhiri semua ini:

"MEREKA PARA PENEGAK KEADILAN DAN KEBENARAN YANG TELAH GUGUR DI MASA LAMPAU MAUPUN SEKARANG, TIDAK PERNAH MATI. KAMI BERLIPAT GANDA! INGAT, KAMI ADA DAN BERLIPAT GANDA!"
Show comments
Hide comments

0 Response to "Mengenang 15 Tahun Kepergian Munir Yang Dibunuh Bangsanya Sendiri"

Post a Comment

Silahkan berkomentar secara ramah dan bijak.. ^_^

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel